Kupas Sejarah Islam Mandar dan Sayyang Pattu’du, Prof. Idham Khalid Bodi Sampaikan Hikmah Maulid di Darul Qurro

KENJE — Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Wakaf Darul Qurro, Desa Kenje, Kecamatan Campalagian, berlangsung khidmat dan sarat akan bobot keilmuan sejarah kebudayaan Islam (Ahad, 25/10/2026). Perhelatan ini menghadirkan ulama sekaligus akademisi dan budayawan Mandar, Prof. Dr. H. Idham Khalid Bodi, M.Pd., sebagai pembawa Hikmah Maulid. Di hadapan ratusan jemaah dan pengurus yayasan, beliau mengupas secara mendalam jejak sejarah masuknya Islam di Tanah Mandar, landasan filosofis tradisi lokal, hingga urgensi penguatan kembali literasi aksara Lontara’ di era modern.

Dalam uraian hikmah maulidnya, Prof. Dr. H. Idham Khalid Bodi, M.Pd., memaparkan rekam sejarah masuknya Islam di Tanah Mandar yang secara historis tercatat mulai bertunas pesat pada rentang tahun 1603 M hingga 1608 M. Beliau menekankan kebanggaan identitas keislaman masyarakat Mandar yang memegang peranan krusial dalam pilar dakwah Nusantara, salah satunya ditandai dengan lahirnya Al-Qur’an terjemahan bahasa daerah pertama yakni bahasa Mandar. Ketersediaan Al-Qur’an berbahasa Mandar yang merupakan bahasa keenam yang dituturkan oleh suku Mandar menjadi bukti sejarah bahwa ajaran Islam telah terintegrasi secara harmonis dengan bahasa ibu dan kearifan lokal setempat sejak ratusan tahun silam.

Lebih jauh, Prof. Idham Bodi menguraikan landasan filosofis di balik tradisi Kuda Menari atau Sayyang Pattu’du yang kerap mengiringi perayaan Maulid dan Khataman Al-Qur’an di Tanah Mandar. Beliau menjelaskan bahwa Sayyang Pattu’du bukan sekadar atraksi seni, melainkan bentuk apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para santri yang telah menuntaskan bacaan Al-Qur’an. Gerakan Kuda Pattu’du yang menari seirama dengan irama tabuhan rebana melambangkan kegembiraan spiritual serta ketundukan jiwa seorang hamba dalam mengagungkan kalam Ilahi dan meneladani akhlakul karimah Rasulullah SAW.

Di samping pelestarian tradisi, pembawa hikmah maulid secara khusus menyoroti tantangan era digital dengan mengajak masyarakat mengembalikan budaya membaca dan menulis aksara Lontara’. Prof. Idham mengimbau generasi muda dan lembaga pendidikan keagamaan untuk merawat kembali naskah-naskah kuno serta tradisi literasi Lontara’ sebagai warisan intelektual ulama Mandar terdahulu. Menurutnya, revitalisasi budaya membaca dan menulis Lontara’ yang dipadukan dengan pemahaman Al-Qur’an akan menjadi benteng kebudayaan yang kokoh agar nilai-nilai keimanan dan identitas lokal tidak tergerus oleh zaman.

Refleksi sejarah dakwah dan pelestarian nilai budaya dalam Peringatan Maulid Nabi SAW ini semakin menegaskan komitmen Yayasan Wakaf Darul Qurro Desa Kenje dalam mengawal pendidikan Qur’ani yang berakar kuat pada kearifan lokal. Yayasan Wakaf Darul Qurro terus berikhtiar menjadi episentrum dakwah dan pembelajaran keimanan yang menyatukan kedalaman ilmu Al-Qur’an dengan keagungan tradisi Nusantara. Kami mengundang seluruh lapisan masyarakat dan para muhsinin untuk bersinergi, menyalurkan wakaf, serta mempercayakan pembinaan keagamaan putra-putri Anda bersama Yayasan Wakaf Darul Qurro, demi terwujudnya generasi Rabbani yang unggul, berakhlak mulia, dan bangga akan warisan leluhurnya.

#YayasanWakafDarulQurro #DarulQurro #Daqu #MasjidWakafDarulQurro #MaulidNabi2026 #HikmahMaulid #SejarahIslamMandar #SayyangPattudu #AksaraLontara #AlQuranBahasaMandar #GenerasiRabbani

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *